Makalah Pendidikan Belajar dan Pembelajaran

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Permasalahan utama pendidikan adalah disparitas mutu pendidikan, ketersediaan pendidikan dan tenaga kependidikan yang belum memadai secara kuantitas dan kulaitas. Sehingga terjadinya permasalahan secara internal dan eksternal.
Permasalahan tersebut bertambah parah karena tidak didukung dengan komponen-komponen utama pendidikan seperti kurikulum, sumber daya manusia pendidikan yang berkualitas, sarana-prasarana serta pembiayaan.
Salah satu masalah utama yang dihadapi dunia pendidikan adalah kualitas guru karena peran guru dalam proses belajar adalah sangat sentral. Begitupun keluarga dalam mendorong motivasi siswa.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Masalah-Masalah Internal Belajar
Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar, selama proses belajar yang dilakukan. Aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah secara internal.
Jika siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak dapat belajar dengan baik. Terdapat beberapa fakyor internal yang dialami dan di hayati oleh siswa dan hal ini akan sangat mempengaruhi terhadap proses belajar, dan faktor-faktor itu akan uraikan sebagai berikut.

A. Sikap Terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian.
Adanya penilaian terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikan begitu saja, selama melakukan proses pembelajaran siswa akan menetukan hasil dari pembelajaran tersebut.
Pemahaman siswa yang salah terhadap belajara akan membawa kepada sikap yang salah dalam melakukan pembelajaran. Sikap siswa ini akan mempengaruhinya terhadap tindakan belajar. Sikap yang salah akan membwa siswa merasa tidak peduli dengan belajar lagi, akibatnya tidak akan terjadi proses belajar yang kondusif.
Tentunya hal ini akan sangat menghambat proses belajar, sikap siswa terhadap belajar akan menentukan proses belajar itu sendiri. Ketika siswa tidak peduli terhadap belajar maka upaya pembelajaran yang dilakukan akan sia-sia. Karena itu siswa sebaiknya mempertimbangkan masak-masak terhadap sikap belajar.

B. Motivasi Belajar
Tidak diragukan lagi bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbukan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus.
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar, lemahkanya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu akan menjadi rendah.
Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus. Motivasi yang diberikan dapat meliputi penjelasan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan mencari ilmu, bila siswa mengetahui betapa besarnya keutamaan sebuah ilmu dam betapa besarnya ganjaran bagi orang yang menuntut ilmu, maka siswa akan merasa harus untuk menuntut ilmu.
Selain itu, bagaimana seorang guru mampu membuat siswanya merasa membutuhkan ilmu, bila seseorang merasa membutuhkan ilmu maka tanpa disuruhpun siswa akan mencari ilmu itu sendiri, sehingga semangat siswa untuk menuntut ilmu sangat tinggi dan hal ini akan sangat memudahkan proses belajar.

C. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Memusatkan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Sebab ketikan awal masuk kelas perhatian siswa masih terpecah-pecah dengan berbagai masalah.
Sehingga sangat perlu untuk melakukan pemusatan perhatian dengan berbagai cara menurut ahli psikologi kekuatan belajar seseorang setelah 30 menit telah mengalami penurunan, disarankan guru melakukan istirahat bebrapa menit, istirahat tidak harus di luar kelas melainkan dapat berupa obrolan ringan yang mampu membuat siswa rileks kembali dengan memberikan istirahat. Maka perhatian dan prestasi dapat ditingkatkan.

2.2 Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
Kesuliatan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan (manifestasi), karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar.
Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar pada dasarnya tiap jenis-jenis masalah khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakangi (penyebabnya).
Seseorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya selnajutnya guru dapat melaksanakan tahap berikut, yakni mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dihadapi muridnya dalam belajar.
Meskipun guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadinya masalah sesungguhnya krena masalah belajar cenderung sangat kompleks. Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu:

a. Faktor-Faktor Internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri) antara lain:
• gangguan secara fisik seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indra, cacat tubuh, serta penyakit menahan (alergi, asma dsb.)
• ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
• Kelemahan empsional, seperti merasa tidak aman, kuran bisa menyesuaikan diri (mala d justment), tercekam rasa takut, benci, dan antipasi, serta ketidak matangan emosi.
• Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

b. Faktor-Fakto Eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu) yaitu berasal dari:
1. Sekolah, antara lain:

• sifat kurikulum yang kurang fleksible
• terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru).
• Metode mengajar yang kurang memadai.
• Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.

2. Keluarga (rumah tangga) antara lain:

• Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.
• Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya.
• Ekonomi yang lemah.

BAB III

KESIMPULAN
Dalam proses belajar dan pembelajaran saya dapat temukan berbagai masalah internal dalam belajar seperti sikap terhadap belajar yaitu sikap penilaian, menerima dan menolak bahkan mengabaikan begitu saja semua pelajaran ketika dalam proses belajar, motivas belajar siswa yang kurang dari diri sendiri, lingkungan dan keluarga, dan juga konsentrasi belajar ketika melakukan kegiatan proses pembelajaran.
Demikian yang dapat saya simpulkan dari isi makalah saya mohon maaf atas kekurangannya, kesempurnaan hanya milik Alloh SWT. Mohon kritikan bapak biar saya bisa menulis makalah berikutnya lebih baik kedepannya. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA

• Subiyanto,Paul. Filsafat Konstruktifisme dalam Pendidikan
• Irwan,Prasetya,Teori Belajar. Program Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) Untuk Dosen Muda. Pusat Antar Universitas Dikti. Depdikbud,1997.

About these ads
%d blogger menyukai ini: