Arsip Harian: 20 November 2010

Contoh Panitia Pusat Pendaftaran CPNS Kementerian Agama RI Tahun 2010

PENGUMUMAN
Nomor : BII/I-a/Kp.00.3/15774/2010

TENTANG
PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL
DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN AGAMA
TAHUN 2010
Kementerian Agama Republik Indonesia membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dengan ketentuan dan persyaratan sebagai berikut :
I. CARA MENDAFTAR

1. Pendaftaran CPNS dilaksanakan berdasarkan domisili KTP setempat untuk pelamar pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN), dan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN), kecuali pelamar pada Unit Eselon I Pusat, Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).
2. Pengumuman dan pendaftaran CPNS di lingkungan Kementerian Agama secara on-line melalui internet/website dengan alamat http://www.kemenag.go.id dengan subdomain cpns.kemenag.go.id.
3. Bagi pelamar yang kesulitan menggunakan aplikasi internet/website dapat melakukan pendaftaran/registrasi yang ditujukan langsung kepada panitia pengadaan CPNS masing-masing melalui kantor pos tanpa melampirkan print out entry data pendaftaran.
4. Lamaran ditulis oleh tangan sendiri dengan tinta hitam dan ditandatangani oleh pelamar disertai dengan:
1. Print out entry data pendaftar;
2. Foto copy sah ijazah yang telah dilegalisir sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan;
3. Pas photo ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar;
4. Foto copy KTP yang masih berlaku.
5. Surat lamaran dikirim melalui jasa pos, ditujukan kepada panitia Panitia Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil CPNS Pusat/Panitia Pengadaan CPNS Unit Eselon I/Panitia Pengadaan CPNS Daerah dan stempel pos terakhir tanggal 3 November 2010;
6. Pelamar wajib melampirkan amplop balasan yang telah ditempel perangko kilat dengan menuliskan nama dan alamat serta kode pos, bagi pelamar yang tidak melampirkan amplop balasan dinyatakan gugur sebagai peserta.
7. Pada amplop lamaran agar dicantumkan satuan kerja yang dituju dan pekerjaan yang dilamar pada sudut kiri atas contoh terlampir.
8. Lamaran dibuat menurut contoh terlampir. (Download dokumen)
II. PERSYARATAN UMUM

1. Warga Negara Indonesia;
2. Berusia serendah-rendahnya 18 Tahun dan setinggi-tingginya 35 tahun (pada tanggal 1 Januari  2011).
3. Bagi pelamar yang berusia lebih dari 35 Tahun sampai dengan 40 Tahun agar melampirkan bukti wiyata bakti sampai dengan tanggal 1 Januari 2011 minimal 13 Tahun 9 bulan secara terus menerus dan tidak terputus pada instansi pemerintah atau yayasan yang berbadan hukum;
4. Bagi pelamar lulusan Perguruan Tinggi Swasta yang belum terakreditasi sebelum berlakunya Keputusan Mendiknas Nomor 184/U/2001 tanggal 23 November 2001 harus sudah disahkan oleh Kopertis /Kopertais;
5. Bagi pelamar lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri atau Lembaga Pendidikan Luar Negeri, harus melampirkan Surat Keputusan Penetapan dan Penyetaraan hasil penilaian ijazah lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri dari Ditjen Pendidikan Tinggi /Ditjen Pendidikan Agama Islam;
6. Foto copy ijazah Universitas /Institut dilegalisir oleh Rektor, Dekan atau Pembantu Dekan Bidang Akademik, sedangkan foto copy ijazah Sekolah Tinggi dilegalisir Ketua atau Pembantu Ketua Bidang Akademik;
7. Tanggal penetapan ijazah harus sebelum tanggal pelamaran, sedangkan surat keterangan atau pernyataan lulus tidak diperkenankan;
8. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap;
9. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil /PegawaiSwasta;
10. Tidak berkedudukan sebagai Calon Pegawai Negeri /Pegawai Negeri;
11. Bersedia ditempatkan di seluruh Republik Indonesia atau negara lain yang ditentukan oleh Pemerintah;
12. Tidak menjadi anggota /pengurus PARPOL;
13. Bersedia memenuhi peraturan /ketentuan yang berlaku dalam lingkungan Kementerian Agama.
III. WAKTU PENDAFTARAN

Waktu pendaftaran pelamar melalui website/internet tanggal 25 Oktober 2010 sampai dengan tanggal 3 November 2010.

IV. KETENTUAN LAIN

1. Penerimaan pendaftaran dilaksanakan pada unit kerja sebagai berikut :
1. Sekretariat Jenderal
2. Inspektorat Jenderal
3. Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah
4. Ditjen Pendidikan Islam
5. Ditjen Bimas Islam
6. Ditjen Bimas Kristen
7. Ditjen Bimas Katolik
8. Ditjen Bimas Hindu
9. Ditjen Bimas Buddha
10. Badan Litbang dan Diklat
11. Kanwil Kementerian Agama Provinsi seluruh Indonesia
12. Universitas Islam Negeri (UIN) seluruh Indonesia
13. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) seluruh Indonesia
14. Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar
15. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) seluruh Indonesia
16. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN)
17. Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN)
18. Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN)

Jakarta, 22 Oktober 2010
PANITIA PENGADAAN CPNS
KEMENTERIAN AGAMA RI
K E T U A,
 
……………………………………….

Iklan

kardiovaskular

Sistem peredaran darah atau sistem kardiovaskular adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh
(bagian dari homeostasis). Ada tiga jenis sistem peredaran darah: tanpa sistem peredaran darah, sistem peredaran darah terbuka, dan sistem peredaran darah tertutup. sistem peredaran darah,yang merupakan juga bagian dari kinerja jantung dan jaringan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler) dibentuk. Sistem ini menjamin kelangsungan hidup organisme, didukung oleh metabolisme setiap sel dalam tubuh dan mempertahankan sifat kimia dan fisiologis cairan tubuh. Pertama, darah mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel dan karbon dioksida dalam arah yang berlawanan (lihat respirasi). Kedua, yang diangkut dari nutrisi yang berasal pencernaan seperti lemak, gula dan protein dari saluran pencernaan dalam jaringan masing-masing untuk mengkonsumsi, sesuai dengan kebutuhan mereka, diproses atau disimpan. Metabolit yang dihasilkan atau produk limbah (seperti urea atau asam urat) yang kemudian diangkut ke jaringan lain atau organ-organ ekskresi (ginjal dan usus besar). Juga mendistribusikan darah seperti hormon, sel-sel kekebalan tubuh dan bagian-bagian dari sistem pembekuan dalam tubuh.

Nama-nama organ :
Adrenalin – Appendiks – Duodenum – Esofagus – Ginjal – Hati – Jantung – Kandung empedu – Kandung kemih – Kulit – Kunci paha – Limpa – Mata – Otak – Ovarium – Pankreas – Paratiroid – Paru-paru – Lambung – Pituitari – Prostat – Rahim – Thymus – Tiroid – Usus – Vena – Zakar

Euglenophyta


Euglenophyta merupakan organisme uniseluler yang bersifat autorof, karena memiliki klorofil a dan b, b karoten dan beberapa xanthofil yaitu astaxanthin yang dikenal juga sebagai euglenarodhon atau haematokrom. Euglena sanguinea mempunyai astaxanthin sangat banyak sehingga menyebabkan air kolam berwarna merah.
Kloroplast berbentuk bulat, seperti pita, bintang atau menyerupai jala. Mempunyai pirenoid. Cadangan makanan berupa paramilum (b 1-3 polimer glukosa) yang terletak di dalam sitoplasma, tidak seperi Chlorophyta amilumnya terdapat di dalam kloroplast.
Euglenophyta disebut juga Euglenoidina, merupakan organisme yang motil karena memiliki 1 – 3 flagella di bagian anteriornya. Sel organisme ini tidak memiliki dinding, tubuh hanya diliputyi pellicle yang sering disebut periplas yang terletak tepat di bawah plasmalemma.

STRUKTUR SEL
Organisme ini mempunyai tingkat perkembangan lebih tinggi daripada Cyanophyta karena sudah mempunyai inti yang tetap dan mempunyai khloroplast seperti pada tumbuhan tinggi. Karena itu Euglena dapat melangsungkan fotosinthesa dan tumbuh seperti halnya pada tumbuhan tinggi. Semua euglenoid mempunyai satu atau dua flagella yang menyebabkan mereka dapat bergerak secara aktif. Selnya telah mempunyai bentuk yang tetap, dinding sel bukan terdiri dari selulosa melainkan suatu selaput tipis yang dapat mengikuti gerakan sel euglenoid yang sewaktu-waktu dapat berubah bentuk.
Ujung anterior dari sel berupa sitostoma, dan dibawahnya berupa “kerongkongan”/gullet. Pada beberapa jenis celah ini berguna untuk memasukkan makanan berbentuk padat, tetapi pada beberapa jenis tidak demikian. Gullet terdiri atas leher yang sempit (cytopharynx) dan bagian posterior yang membesar berupa waduk (reservoir). Waduk berhubungan dengan vakoula kontraktil. Pada genera tertentu pada gulletnya terdapat batang farink, terletak parallel dengan panjang gullet, dan ujung bawahnya sampai setinggi dasar waduk atau memanjang ke ujung posterior dari sel. Fungsi organ ini untuk menyokong sitostoma waktu menelan makanan padat.
Flagella dari Euglena pangkalnya tertanam pada dasar waduk dan keluar sepanjang sitofarinx dan sitostoma. Yang mempunyai satu flagella, tumbuh ke muka. Genera yang mempunyai dua flagella, flagellanya sama panjang dan tumbuh ke arah depan tetapi lebih banyak genera yang flagellanya tidak sama panjang. Flagelnya mempunyai rumbai-rumbai sepanjang batang (tipe tinsel).
Sistem pergerakan flagella pada prinsipnya sama dengan pergerakan baling-baling. Pergerakan flagellum pada 1 atau 2 bidang digunakan untuk dorongan atau sentakan. Gelombang dari sistem undulatory ini lewatnya dari dasar ke ujung dan langsung mengendalikan organisme dalam arah yang berlawanan atau pergerakan gelombang lewat dari ujung ke dasar dan ini gerakan sentakan organisme.
Sel mempunyai sebuah pigmen merah menyerupai bintik mata. Pigmen merah ini merupakan astaxanthin yang hanya dijumpai pada golongan Crustaceae.
Cadangan makanan berupa paramilum yaitu bentuk antara dari polisakharida, jadi bukan berupa amilum seperti pada tumbuhan tinggi atau glycogen seperti pada binatang.

Euglenophyta dapat hidup secara autotrof tetapi juga secara saprofit; tidak dapat hidup dalam medium yang hanya mengandung garam-garam anorganik, tetapi akan cepat tumbuh bila dalam medium ditambah dengan sejumlah asam amino. Beberapa jenis hidup secara obligat saprofit sedang yang lain obligat autotrof, disamping ada yang hidup secara holozoik yaitu dapat menangkap dan menelan mangsanya seperti pada binatang.
Hubungan antara Euglenophyta dengan alga lainnya masih belum jelas. Melihat adanya persamaan dalam hal warnanya, maka diduga ada persamaannya dengan Chlorophyta, tetapi organisasi protoplast antara keduanya jauh berbeda. Dalam kenyataannya kelompok euglenoid ini mempunyai persamaan dengan Chrysophyta, Dinoflagellata dan Volvox.
REPRODUKSI
Aseksual
Dengan pembelahan sel, baik waktu sedang aktif bergerak atau dalam keadaan istirahat. Pada genera yang mempunyai lorika (pembungkus sel) protoplast membelah di dalam lorika, kemudian salah satu anak protoplast keluar dari lorikanya dan membentuk lorika baru, sedang yang satu tetap di dalam lorika lamanya dan tumbuh menjadi sel baru. Pada sel yang bergerak aktif, pembelahan memanjang sel (longitudinal) dan dimulai dari ujung anterior. Pada genera yang mempunyai satu flagella, mula-mula blepharoplast membelah menjadi dua, satu membawa flagelanya dan satu lagi akan menghasilkan flagella baru.

Gambar 7.1. Pembelahan pada Euglenophyta
Pada yang mempunyai dua flagella, dapat terjadi salah satu sel anakan membawa dua flagel lamanya dan sel anakan yang lain akan menghasilkan dua flagella baru atau dapat terjadi masing-masing sel anakan membawa satu flagella dan kemudian masing-masing menghasilkan satu flagella lagi. Pembelahan sel pada yang tidak bergerak aktif dapat berlangsung dalam keadaan dibungkus oleh selaput lendir. Kadang-kadang protoplast anakan tidak keluar dari selaput pembungkusnya sebelum membelah lagi. Dalam kasus seperti ini akan terbentuk koloni yang tidak permanen, yang pada waktu tertentu selnya akan bergerak aktif kembali. Pada banyak genera dijumpai bentuk berupa siste berdinding tebal. Bentuk siste ada yang menyerupai sel vegetatifnya, tetapi kebanyakan bentuknya berbeda, bulat atau polygonal. Protoplast dapat menghasilkan sangat banyak euglenarhodone, sehingga berwarna sangat merah. Biasanya siste berkecambah dengan keluarnya protoplast dari dalam dinding yang tebal dan tumbuh manjadi sel baru yang bergerak aktif.
Seksual
Adanya konjugasi/penggabungan sel vegetatif pernah dijumpai pada beberapa euglenoid, tetapi kasus ini masih sangat kabur. Autogami (penggabungan dua inti anakan dalam sel), pernah dijumpai pada Phacus.
Contoh : genera Euglena (berwarna hijau)
Astasia (tidak berwarna)
Cryptomonas ( hijau )
Chilomonas (tidak bewarna)
Euglena
Termasuk semua anggota Euglenophyceae yang selama hidupnya sel selalu mempunyai flagel dan dapat bergerak. Hidupnya soliter, tidak pernah membentuk koloni. Kloroplast berbentuk cakram sampai bentuk pita. Spesies tertentu dari Euglena yang mempunyai khloroplast juga menghasilkan pigmen merah (euglenarhodone), yang jumlahnya dapat demikian banyak sehingga mengaburkan isi selnya. Euglenarhodone adalah suatu keton karetenoid (Gambar 7.2).
Makanan Euglena sangat bervariasi meliputi segala organisme.hidup. Cytostoma Euglena dapat digembungkan dengan sangat besar untuk menelan mangsanya yang besar.
Bila Euglena tumbuh di tempat gelap dengan substrat organik yang cocok, warnanya hilang, tetapi akan berwarna kembali bila ada cahaya. Pada keadaan yang luar biasa, Euglena dapat menghasilkan suatu varietas/ras yang tidak berwarna (apokhlorotik), ras ini tetap tidak berwarna meskipun ada cahaya. Ras apokhlorotik ini dapat diperoleh dengan memperlakukan sel Euglena dengan streptomysin dalam cahaya.
Cadangan makanan Euglena berupa paramylum, yaitu karbohidrat yang tidak larut, bentuknya dapat berupa cakram cincin, batang atau bulat, yang kadang-kadang ukurannya relatif besar. Paramylum berupa polysaccharida yang rumus molekulnya menyerupai tepung/pati, tetapi tidak bereaksi dengan tes pati. Butir paramylum menyerupai butir pati/amylum, yaitu mempunyai lapisan yang konsentris.
Euglena sering kali dapat memberi warna pada air bila dalam jumlah yang banyak. Banyak dijumpai di dalam kolam-kolam kecil yang banyak mengandung bahan organik. Dalam bentuk kehidupan yang saprofit tanpa zat warna, jarang dijumpai dan bila ada biasanya terdapat pada tempat-tempat dimana terjadi purifikasi (pembusukan). Beberapa jenis Euglena hidup pada lumpur sepanjang tepi sungai, estuarine, atau payau-payau bergaram. Pada tempat ini dapat tumbuh subur sehingga cukup memberi warna pada lumpur. Jika populasinya di kolam sangat banyak, maka menyebabkan permukaan kolam seperti tertutup lapisan hijau yang dapat berubah warna menjadi merah dalam beberapa jam.
Astasia mempunyai bentuk mirip Euglena, hanya tidak berwarna karena tidak memiliki kloroplas, sehingga bersifat heterotrof.
Phacus mirip juga dengan Euglena, tetapi selnya lebih kaku karena memiliki keel, kloroplast discoid, tanpa pirenoid, paramylum bodi besar berbentuk seperti donat dan terletak di tengah sel. Partamylum bodi Lepocinclis berbentu cincin tetapi di kedua sisi anterior.
Peranema
Tubuhnya yang memanjang dengan suatu evaginasi (reservoir) di bagian ujung anterior. Vakuola kontraktil berupa suatu kantung, dan dua flagella muncul dari dinding tersebut. Sebuah pigmen berupa suatu bintik atau berupa stigma dan bertempat di area dasar flagella yang panjang yang berfungsi untuk fotoreseptif. Pada Peranema yang tidak berwarna, kedua flagella panjang yang muncul dari suatu alur berupa jalan kecil ke arah belakang. Tubuh tertutup oleh pelicle dan bersifat fleksibel dan punggung yang longitudinal akan tampak dengan mikroskop elektron.
Peranema bersifat holozoik. Cara ingesti Peranema telah dipelajari secara detail. Bagian akhir anterior tubuhnya terdapat dua organ rod paralel dinamakan organ rod yang letaknya berdekatan dengan reservoir. Bagian anterior organ rod yang disebut cytostoma yang berhubungan dengan reservoir. Pada proses makannya, organ rod ditonjolkan keluar untuk berlabuh dengan menyentakkan tubuhnya menangkap mangsanya untuk kemudian ditelan secara keseluruhan atau organ rod tersebut dapat digunakan untuk memotong makanan baru kemudian ditelan dan dihancurkan di dalam vacuola makanan.
Colacium
Colacium calvum bersifat epizoik pada copepoda, rotifera dan zooplankton air tawar lainnya.
Sel-sel dari Colacium dibungkus oleh selaput lendir yang melekat dengan suatu tangkai pada inangnya, ujung anterior sel menghadap ke bawah. Tangkai lendir terbentuk karena bagian anterior sel manghasilkan lebih banyak lendir. Mempunyai banyak khloroplast berbentuk cakram, dengan atau tanpa pirenoid.
Inti tunggal, besar terletak pada bagian posterior (atas) dari sel. Bagian anterior (bawah) sel/protoplast mengandung gullet yang jelas dan juga ada bintik mata. Pada koloni bentuk pohon, protoplastnya tidak mempunyai flagella.
Protoplast dari Colacium juga dapat berkembang membentuk stadium telanjang yang amoeboid, dan berkembang secara vegetatif. Dapat pula berbentuk stadium telanjang yang amoeboid dengan 4 inti. Pada stadium ini reproduksi dengan membentuk tunas dengan satu inti dan kemudian mengalami metamorfose menjadi sel kembar dengan satu flagella.
Bila pembelahan sel berlangsung, sel anakan masing-masing akan membentuk tangkai yang tetap melekat pada tangkai induknya. Pembelahan sel yang berulang-ulang akan menghasilkan koloni yang berbentuk pohon (dendroid). Sel-sel dari koloni membentuk pohon berbentuk bulat telur atau lonjong.
Sel dari stadium/bentuk dendroid atau palmelloid, protoplastnya dapat menghasilkan satu flagellum dan keluar berupa suatu zooid yang berenang bebas. Zooid ini berenang beberapa saat sebelum menanggalkan flagellanya dan menghasilkan dinding.

Moon Chemistry Confirms Violent Origin

Moon Chemistry Confirms Violent Origin

By Jeanna Bryner
Special to SPACE.com
posted: 22 August 2006
06:06 am ET

The mystery of how Earth got its Moon is one step closer to being solved.

The European Space Agency’s lunar-orbiting craft called SMART-1 has completed the first detailed chemical mapping of the lunar surface. The detected chemicals, such as calcium and magnesium, give a boost to the longstanding theory that the Moon formed from the debris flung into space after a collision between early Earth and a Mars-size planet.

Calcium, in particular, is found deep inside Earth. So if the Moon has a lot of calcium, then perhaps it is made of material that was once inside our planet.

Armed with miniaturized instruments—including an ultra-compact electronic camera, an X-ray telescope the size of a toaster for mapping chemical composition, and high-tech communication gadgets—SMART-1 had lofty goals. It was to pin down out how the Moon came to exist, search for water locked up as ice in the depths of Sun-deprived craters, and map the mineral composition of the Moon’s crust.

Apollo science

Prior to the Apollo missions, there was no consensus among planetary scientists regarding the Moon’s formation. One theory claimed that the Earth and the Moon formed at the same time from the same disk of swirling dust and gas, while another purported that the Moon is a scoop of Earth that split off in the early stages of our solar system.

Besides sending home awe-inspiring photos, the Apollo missions delivered 842 pounds (382 kilograms) of lunar rocks and soil—the first pieces of chemical evidence to help explain the Moon’s formation.

The favored theory now describes a violent collision between the Earth and a planet-size object, which hurled molten rocks and dust from both contenders into space. Over time, the debris congealed into the Moon.

With most Moon know-how coming from Apollo’s six landing sites, scientists saw lots of room for error. To solve the lunar-forming puzzle, a global investigation of the entire surface was needed.

Smart science

Enter SMART-1 (Small Missions for Advanced Research and Technology), a spacecraft equipped with seven high-tech instruments that would give a detailed map of both chemical make-up and topography over the Moon’s entire surface.

One of the most important devices, D-CIXS (pronounced dee-kicks) recorded hours of X-ray data. When the Sun’s rays hit the Moon, the X-rays caused atoms to fluoresce and emit their own X-rays. The D-CIXS (Demonstration Compact Imaging X-ray Spectrometer) telescope translated the amount of energy released into the type and abundance of different elements.

D-CIXS detected the major components of rocks: aluminum, silicon, magnesium, and calcium. However, elements like calcium are not homogenously mixed throughout the Moon. To paint a three-dimensional picture of the chemical composition, planetary scientists needed both surface and “bulk” data.

Cosmic Coincidence

What the project team is calling a cosmic coincidence helped to land that information. On January 2005, a massive solar flare flooded the Moon with X-rays. Meanwhile, the craft was peering over a region called Mare Crisium—the same location in which Russian Landers had collected soil samples in the 1970s. There, the spectrometer detected calcium in similar amounts to the data collected by the landers.

Plus, calcium showed up in broad areas across the entire lunar surface. This rock-building element lends support to the impact theory.

“From SMART-1 observations of previous landing sites we can compare orbital observations to the ground truth and expand from the local to global views of the Moon,” says Bernard Foing, Project Scientist for SMART-1.

More work remains to sort out just how significant the calcium findings are.

“We have good maps of iron across the lunar surface. Now we can look forward to making maps of the other elements,” said Manuel Grande of the University of Wales and D-CIXS’ Principal Investigator.

The findings will be detailed in the Planetary and Space Science journal.

Dark side

Since the Moon’s rotation around its axis is equal to its orbital period, or the time it takes the Moon to travel around Earth, the same side always faces Earth. While scientists have studied samples from the Moon’s near side, the far side and its polar regions have remained in the dark.

For instance, the lunar south pole sits in the solar system’s largest crater, called the South Pole-Aitken Basin, which is 1,616 miles (2,600 kilometers) across and 7.5 miles (12 kilometers) deep. SMART-1 snapped loads of photos of the crater, while gathering chemical data. With such depths, the scientists hope to get a peek at the Moon’s mantle layer, just beneath the crust. Since the Moon accreted material over time, the deeper you go the further back in time you go.

This September, the craft’s nearly three-year mission will come to an end with a fiery crash.

As the craft nears shut-eye, its instruments will keep all eyes on the Lake of Excellence, a volcanic plain area surrounded by highlands in the mid-southern latitudes. Such close capture should give scientists insights into the formation of this region

Memajukan Kebudayaan Bangsa

Dalam Memajukan Kebudayaan Bangsa Kita Kehilangan Haluan
oleh Nunus Supardi(*)
Pengantar
Dalam makalah seminar budaya “Evaluasi dan Strategi Kebudayaan” yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1987,  Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin (Dosen UI) mengulas peran tiga kalimat penjelasan pasal 32 UUD 1945. Menurut Nazaruddin, dengan adanya ketiga kalimat penjelasan itu bangsa Indonesia “mampu melepaskan diri dari rasa curiga terhadap kebudayaan suku-suku. Kebudayaan suku-suku bangsa tidak perlu dipandang sebagai ancaman terhadap kebudayaan nasional; kebudayaan daerah atau suku bukanlah ancaman, melainkan pembentuk kebudayaan nasional. ”
Dari kutipan di atas amat jelas, betapa besar peran tiga kalimat itu dalam mencegah ketidakjelasan dalam menata hubungan bersama dan dalam menyamakan pemahaman tentang kebudayaan bangsa. Tetapi ketiga kalimat itu kini secara konstitusional tidak tampil lagi sebagai penjelas makna pasal 32 tersebut. Pasal 32 yang semula hanya satu ayat setelah diamandemen berubah menjadi 2 ayat. Tiga kalimat itu dihilangkan, dan tidak satu pun kata atau kalimat dari tiga kalimat penjelasan itu yang diangkat ke dalam dua ayat yang baru.
Peran 3 Kalimat Penjelasan 
Dapat dipastikan, ketika para pendiri bangsa memasukkan kebudayaan ke dalam batang tubuh UUD 1945, pembahasan berlangsung dalam suasana seru, baik tentang urgensinya, rumusannya maupun penempatannya dalam pasal, serta rumusan kalimat penjelasan.  Dalam hal penempatan dalam pasal saja, kebudayaan harus pindah 3 kali. Dari semula berada pada pasal 34 bergeser ke pasal 33,  dan akhirnya bergeser lagi menjadi pasal 32 berdampingan dengan pasal 31 tentang pendidikan. 
Rumusan kalimatnya amat singkat, yaitu: “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.” Menyadari betapa singkatnya kalimat pasal 32, para pendiri bangsa melengkapinya dengan tiga kalimat sebagai penjelasan.  Dengan adanya penjelasan itu berbagai pertanyaan mendasar dapat terjawab. Pertanyaan mendasar itu antara lain sebagai berikut:
1. Setelah lahir yang disebut kebudayaan nasional Indonesia, bagaimana posisi kebudayaan daerah atau kebudayaan suku bangsa? Hilang atau lebur ke dalam kebudayaan nasional. Pertanyaan seperti selalu dan akan muncul pada setiap pergantian generasi.
2. Setelah lahir kebudayaan Indonesia baru, bagaimana posisi kebudayaan lama dan asli? Masih tetap ada sebagai dasar atau bagian kebudayaan bangsa atau dihapuskan? Seperti kita ketahui pada masa Pujangga Baru terjadi polemik kebudayaan hebat tentang hal itu.
3. Ke mana arah yang akan dituju dalam memajukan kebudayaan bangsa? Sebagai bangsa yang baru lahir jawaban atas pertanyaan itu penting agar bangsa itu tidak salah langkah.
4. Bagaimana bangsa ini menyikapi masuknya pengaruh kebudayaan asing, menolak atau menerima, atau menyaring? Jawaban itu penting, karena sebagai bangsa baru mustahil akan menghindarkan diri dari pertemuan antarbangsa dan antarbudaya bangsa.
5. Apa kriteria  atau ukuran yang dapar dipakai untuk melakukan penerimaan atau penolakan, atau penyaringan pengaruh budaya asing itu?
Jawaban atas pertanyaan pertama terdapat pada kalimat yang berbunyi: “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya.” Dari keseluruhan kalimat itu dapat ditangkap secara jelas maknanya. Kalimat itu mengandung makna pengakuan bahwa seluruh budaya suku bangsa (daerah) di seluruh Indonesia, pada hakikatnya adalah kebudayaan bangsa atau kebudayaan nasional Indonesia. Dengan pengakuan ini mencerminkan arti bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, kita tidak mengenal istilah budaya ‘mayoritas’ dan ‘minoritas’, ‘maju’ atau ‘terbelakang’, ‘tinggi’ atau ‘rendah.’ Seluruh budaya suku bangsa dalam posisi sama,  setara, dan dari pengakuan seperti itu akan tercipta iklim kehidupan  saling menghargai dan saling menghormati. 
Jawaban atas pertanyaan kedua, mengenai bagaimana posisi kebudayaan lama dan asli, ada pada kalimat kedua, yang berbunyi: “Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa.”  Kalimat ini menjadi jawaban atas  polemik hebat yang terjadi ketika memperbincangkan mengenai bagaimana membangun kebudayaan bangsa Indonesia baru. Menurut pandangan Sutan Takdir Alisjahbana apabila bangsa baru itu ingin menjadi bangsa yang maju dan modern, tinggalkan kebudayaan lama dan ambil kebudayaan yang bersumber dari kebudayaan Barat. Di lain pihak Sanoesi Pane, Armijn Pane berpendapat tidak mungkin kita menghilangkan kebudayaan lama (Timur). Dengan adanya kalimat penjelasan itu  dapat diartikan bahwa dalam memajukan kebudayaan bangsa tidak bisa dengan serta merta meninggalkan kebudayaan yang lama dan asli, karena kehidupan kebudayaan suatu bangsa pada hakikatnya adalah lanjutan dari kebudayaan sebelumnya. 
Jawaban pertanyaan ketiga, ke mana arah yang akan dituju dalam memajukan kebudayaan terdapat pada frasa yang berbunyi: “Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan…” Amat jelas, ke mana arah yang harus dituju dalam memajukan peradaban bangsa Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia, dan ke mana arah memajukan persatuan bangsa yang multietnik dan multikultur. 
Jawaban atas pertanyaan bagaimana kita menyikapi hubungan  kebudayaan bangsa dengan kebudayaan asing ada pada potongan kalimat: “….dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing…..” Frasa ini menjadi amat penting sebagai acuan ketika bangsa Indonesia sebagai bangsa baru masuk dalam pergaulan antarnegara dan antarbangsa. Dalam era globalisme seperti sekarang ini, frasa ini patut menjadi acuan agar kehidupan bangsa Indonesia tidak terjebak menjadi bangsa yang kehilangan jati diri. 
Lalu, apa kriteria  atau ukuran untuk menerima atau menolak pengaruh budaya asing itu? Jawabannya  ada pada frasa “…yang dapat memperkembangkan dan memperkaya kebudayaan sendiri….”  Apabila pengaruh tidak memberi manfaat meperkembangkan dan memperkaya kebudayaan bangsa harus ditolak kehadirannya.  Bahkan kriteria itu masih diperjelas dengan dengan rambu-rambu: “yang dapat mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”.  
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa melalui tiga kalimat itu para pendiri bangsa telah menyiapkan konsep, kebijakan, strategi dan tujuan di bidang kebudayaan. Dikatakan mengandung konsep karena tiga kalimat itu berisi gagasan tentang apa itu kebudayaan Indonesia. Pengakuan bahwa kebudayaan suku bangsa di seluruh Indonesia adalah kebudayaan bangsa merupakan konsep yang dinilai tepat untuk sebuah bangsa baru yang multietnik dan multikultur. Konsep itu selanjutnya dituangkan dalam semboyan yang sangat tepat, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika.” 
Tiga kalimat itu Baca lebih lanjut

Data Keperawatan Jiwa

1. TERAPI PADA GANGGUAN JIWA
Terdiri atas
1. Psikoterapi
2. Tx medikamentosa
3. Tx kerja
4. Tx rekreasi
5. Tx drama
6. Tx kejang listrik
7. Tx pembedahan
Psikoterapi = Tx Wawancara
1. Suportif = dukungan
2. Analitik = membongkar kondisi jiwa & mencari permasalahan
Tx Medikamentosa = Tx obat-obatan
1. Anti-psikotik
2. Anti-ansietas
3. Anti-depresan
4. Lain-lain
Anti-psikotik Gangguan Psikotik
Skizofrenia
1. Golongan Phenothiazine
2. Golongan Butirophenon
3. Golongan Diphenil butil piperidin
4. Golongan Benzamide
5. Golongan Dibenzodiazepine
6. Golongan Benzisoxazol
1 s/d 3 = tipikal (konvensional)
4 & 6 = atipikal
Anti-psikotik tipikal (konvensional)
Cirinya:
1. Mampu menghilangkan gejala (+)
2. Tdk mampu menghilangkan gejala (-)
3. Efek samping ekstrapiramidal, kuat.
4. Efek samping sedatif, kuat.
5. Relatif murah
6. Pasien kurang suka
Gejala (+): pasien, ada VS normal tdk ada
waham
halusinasi
Gejala (-): normal, ada VS pasien, menurun
penarikan diri
hendaya: pekerjaan
perawatan diri
Golongan Phenothiazine:
Chlorpromazine (CPZ)
Trifluoperazine (TPZ)
Perphenazine (PPZ)
Efek: anti psikotik
sedatif
Sediaan
CPZ : tab (25 mg & 100 mg) & injeksi
TPZ (5 mg) & PPZ (4 mg)
Golongan Butirophenon: Haloperidol (HLP)
Sediaan: tab (5 mg & 1,5 mg)
injeksi short acting: 5 mg/cc
long acting: 50 mg/cc
(2-4 minggu)
Perbedaan CPZ HLP
1. Efek anti-psikotik lemah kuat
2. Efek sedatif kuat lemah
3. Efek ekstra piramidal lemah kuat
4. Penggunaan gaduh tenang
Gelisah
sulit stupor
tidur
Golongan Diphenil butil piperidine :pimozide
Golongan Benzamide :Sulpiride
Golongan Dibenzodiazepine :Clozapine
Golongan Benzisoxazole :Risperidone
Anti-psikotik atipikal
Golongan
Sulpiride
Dibenzodiazepine & Benzisoxazole
Cirinya:
1. Mampu menghilangkan gejala (+) & (-)
2. Efek samping minimal
3. Relatif mahal
Efek samping injeksi yg dpt segera terjadi
1. Hipotensi orthostatik
2. Syok anafilaktik
3. Reaksi alergi
Efek samping jangka panjang anti-psikotik
oral :
1. Ekstra piramidal
2. Hormonal
3. Sistem pembentukan darah
4. Sistem pencernaan
Ekstrapiramidal
1. Parkinsonisme
2. Tardive diskinesia
3. Akatisia
Parkinsonisme
1. tremor
2. rigiditas
3. bradikinesia
diatasi dgn obat anti parkinson
tab: trihexyphenidil atau Inj S.A./im
Efek samping hormonal:
Wanita : galaktorrhoe,amenorrhoe
Pria: impotensi,ginekomastia
Efek samping sistem pembentukan darah:
1. agranulositosis
2. leukopenia
3. thromobositopenia
4. anemia
Efek samping sistem pencernaan:
– mulut kering
– lidah kaku
– diare
– kerusakan hepar ikterus
Obat anti cemas = anti ansietas
Golongan : benzodiazepine
non benzodiazepine
Benzodiazepine Contoh:diazepam
efek
– anti cemas – alprazolam
– sedatif – chlordiazepoxide
– pelemas otot – Lorazepam
– Clobazam
Diazepam
Injeksi digunakan untuk Gaduh gelisah
Pemakaian jangka panjang menyebabkanketergantungan
Obat anti-depresan
1. Golongan trisiklik
2. Golongan tetrasiklik
3. Golongan monoamine oksidase inhibitor
4. Golongan Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor
Golongan trisiklik
Amitriptylin: menghambat induksi jantung
Imipramin: mengatasi ngompol pd anak-anak
Tx kejang listrik
Electro Convulsive Therapy (ECT)
2 macam : – konvensional
– monitor (premedikasi)
Indikasi :
– gaduh gelisah
– konversi histeri
– manik
– depresi berat
– pasien resisten tx obat
– psikosis akut
Kontra indikasi
– absolut:
1. penyakit otak
2. penyakit jantung
3. penyakit paru : kaverne
4. penyakit tulang : patah tulang
– relatif:
1. kehamilan trimester I
2. penyakit paru nonkaverne
3. keadaan umum lemah
Persiapan ECT
1. Px fisik tanpa kontra indikasi
2. Puasa minimal 4 jam
3. BAK & BAB lebih dulu
4. Spatel lidah dari karet
5. Larutan garam fisiologis
6. Baju yg longgar
7. Asisten memegangi pasien
Efek samping ECT
1. Patah tulang vertebra
2. Luksasi mandibula
3. Apnoe memanjang
4. Aspirasi pneumonia
5. Kematian
ECT monitor
– Ada alat monitor
– Dimonitor: otak & jantung ; EEG & ECG
– Ke-2 organ: vital & sensitip arus listrik
ECT premedikasi sebelum ECT diberikan:
1.Sulfas atropin menurunkan lendir paru
2.Penthotal : anestesi
3.Suksinil koline : melemaskan otot (Bahayanya Suksinil koline dpt melumpuhkan otot pernafasan)
Manfaat
1. Kontra indikasi
2. Efek samping minimal
3. Pasien tdk takut rasa sakit
4. Rasa nyaman (+)
MEKANISME KERJA
ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat memberi efek terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik. Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang dimana seseorang kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang mekanisme pasti dari kerja ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan memuaskan. Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan kadar serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada pasien depresi yang tidak responsif terhadap terapi farmakologis.
INDIKASI
ECT ditujukan bagi pasien gangguan jiwa baik itu schizoprenia maupun depresi berat (terutama dengan risiko bunuh diri) yang tidak berespon terhadap terapi farmakologis dengan dosis efektif tinggi dan psikoterapi. Namun diperlukan pertimbangan khusus jika ingin melakukan ECT bagi ibu hamil, anak-anak dan lansia karena terkait dengan efek samping yang mungkin di timbulkannya.
KONTRA INDIKASI
Absolut : Infark myocard, CVE, massa intracranial
Relatif : Angina tidak terkontrol, Gagal jantung kongestif, Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal detachment
EFEK SAMPING
Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari anesthesia umum. Secara psikis efek samping yang paling sering muncul adalah kebingungan dan memory loss setelah beberapa jam kemudian. Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia retrograde dan antegrade. Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa ECT dapat merusak struktur otak. Namun hal ini masih diperdebatkan karena masih belum terbukti secara pasti.
Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :
Cardiovaskuler :
1. Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)
2. Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia, hipertensi, peningkatan konsumsi oksigen otot jantung, dysrhythmia)
Efek Cerebral :
1. Peningkatan konsumsi oksigen.
2. Peningkatan cerebral blood flow
3. Peningkatan tekanan intra cranial
Efek lain :
1. Peningkatan tekanan intra okuler
2. Peningkatan tekanan intragastric

Makalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh perpustakaan sekolah terhadap mutu pendidikan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Pengaruh Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru/dosen pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
B. IDENTIFIKASI MASALAH
C. PEMBATASAN MASALAH.
D. PERUMUSAN MASALAH.

BAB II PEMBAHASAN
A. TUJUAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH.
B. FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH.
C. SUMBANGAN PERPUSTAKAAN TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH.

BAB III PENUTUP
A. SIMPULAN
B. SARAN

Daftar Pustaka.

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif.

Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk mencapai bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat terbentuk jika memiliki kemampuan dan keterampilan mendengar dan minat baca yang besar. Apabila membaca sudah merupakan kebiasaan dan membudaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

Dalam dunia pendidikan, buku terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana pendidikan dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan bagian yang vital dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan.

Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

B. IDENTIFIKASI MASALAH (LATAR BELAKANG)
Sesuai dengan judul makalah ini “Pengaruh Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah”, terkait dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah dan fungsi serta sumbangan perpustakaan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Berkaitan dengan judul tersebut, maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Bagaimana peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah
2. Bagaimana cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ?

C. PEMBATASAN MASALAH.
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah :
a. Peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah;
b. Cara-cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

D. Perumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana deskripsi peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah ?
2. Bagaimana deskripsi cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ?

BAB II
PEMBAHASAN

Perpustakaan merupakan bagian intergral dari lembaga pendidikan sebagai tempat kumpulan bahan pustaka, baik berupa buku maupun bukan buku.
Sesuai dengan judul makalah ini, pembahasan meliputi tujuan perpustakaan, fungsi perpustakaan dan sumbangan perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan.

A. TUJUAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH.
Tujuan utama penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan mutu pendidikan bersama-sama dengan unsur-unsur sekolah lainnya. Sedangkan tujuan lainnya adalah menunjang, mendukung, dan melengkapi semua kegiatan baik kurikuler, ko-kurikuler dan ekstra kurikuler, di samping dimaksudkan pula dapat membantu menumbuhkan minat dan mengembangkan bakat murid serta memantapkan strategi belajar mengajar.
Namun secara operasional tujuan perpustakaan sekolah bila dikaitkan dengan pelaksanaan program di sekolah, diantaranya adalah :
1. Memupuk rasa cinta, kesadaran, dan kebiasaan membaca.
2. Membimbing dan mengarahkan teknik memahami isi bacaan.
3. Memperluas pengetahuan para siswa.
4. Membantu mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu.
5. Membimbing para siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.
6. Memberikan dasar-dasar ke arah studi mandiri.
7. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar bagaimana cara menggunakan perpustakaan dengan baik, efektif dan efisien, terutama dalam menggunakan bahan-bahan referensi.
8. Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksaanan program kurikulum di sekolah baik yang bersifat kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler.

B. FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH.
Berdasarkan tujuan perpustakaan sekolah, maka dapat dirumuskan beberapa fungsi perpustakaan, sebagai berikut :
1. Fungsi Edukatif.
Yang dimaksud dengan fungsi edukatif adalah perpustkaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang rasional dan kritis serta mampu membimbing dan membina para siswa dalam hal cara menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.

2. Fungsi Informatif.
Yang dimaksud dengan fungsi informatif adalah perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang memuat informasi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang bermutu dan uptodate yang disusun secara teratur dan sistematis, sehingga dapat memudahkan para petugas dan pemakai dalam mencari informasi yang diperlukannya.

3. Fungsi Administratif
Yang dimaksudkan dengan fungsi administratif ialah perpustakaan harus mengerjakan pencatatan, penyelesaian dan pemrosesan bahan-bahan pustaka serta menyelenggarakan sirkulasi yang praktis, efektif, dan efisien.
4. Fungsi Rekreatif.
Yang dimaksudkan dengan fungsi rekreatif ialah perpustakaan disamping menyediakan buku-buku pengetahuan juga perlu menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif (hiburan) dan bermutu, sehingga dapat digunakan para pembaca untuk mengisi waktu senggang, baik oleh siswa maupun oleh guru.
5. Fungsi Penelitian
Yang dimaksudkan dengan fungsi penelitian ialah perpustakaan menyediakan bacaan yang dapat dijadikan sebagai sumber / obyek penelitian sederhana dalam berbagai bidang studi.

C. SUMBANGAN PERPUSTAKAAN TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH.
Bila diperhatikan secara jenih, maka perpustakan sekolah sesungguhnya memberikan sumbangan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Sumbangan / peranan perpustakaan antara lain :
1. Perpustakaan merupakan sumber ilmu pengetahuan dan pusat kegiatan belajar.
2. Perpustakaan merupakan sumber ide-ide baru yang dapat mendorong kemauan para siswa untuk dapat berpikir secara rasional dan kritis serta memberikan petunjuk untuk mencipta.
3. Perpustakaan akan memberikan jawaban yang cukup memuaskan bagi para siswa, sebagai tuntutan rasa keingintahuan terhadap sesuatu, benar-benar telah terbangun.
4. Kumpulan bahan pustaka (koleksi) di perpustakaan memberika kesempatan membaca bagi para siswa yang mempunyai waktu dan kemampuan yang beraneka ragam.
5. Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mempelajari cara mempergunakan perpustakaan yang efisien dan efektif.
6. Perpustakaan akan membantu para siswa dalam meningkatkan dalam kemampuan membaca dan memperluas perbendaharaan bahasa.
7. Perpustakaan dapat menimbulkan cinta membaca, sehingga dapat mengarahkan selera dan apresiasi siswa dalam pemilihan bacaan.
8. Perpustakaan memberikab kepuasan akan pengetahuan di luar kelas.
9. Perpustakaan merupakan pusat rekreasi yang dapat memberikan hiburan yang sehat.
10. Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa dan guru untuk mengadakan penelitian.
11. Perpustakaan merupakan batu loncatan bagi para siswa untuk melanjutkan kebiasaan hidup membaca di sekolah yang lebih tinggi.
12. Kegairahan / minat baca siswa yang telah dikembangkan melalui perpustakaan sangat berpengaruh positif terhadap prestasi belajarnya.
13. Bila minat membaca sudah tumbuh dan berkembang pada diri siswa, maka perpustakaan juga dapat mengurangi jajan anak, yang ini biasanya dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan anak.
14. Bahkan perpustakaan juga bagi anak-anak dapat menjauhkan diri dari tindakan kenakalan, yang bisa menimbulkan suasana kurang sehat dalam hubungan berteman diantara mereka.

BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Berdasarkan uraian bahasan “Peranan Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah” dapat disimpulkan bahwa :
1. Peranan perpustakaan sangat menunjang prestasi pendidikan di sekolah.
2. Perpustakaan sangat penting dan harus ada pada setiap sekolah di semua jenjang pendidikan.
3. Pengelolaan perpustakaan harus dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan fungsinya

B. SARAN
Bertolak dari peranan perpustakaan yang begitu banyak sumbangsihnya dalam pelaksanaan program pendidikan di sekolah, penyusun memberikan saran sebagai berikut:
1. Sebaiknya perpustakaan dikelola sesuai dengan tujuan dan fungsinya.
2. Peran pengelola perpustakaan / pustakawan yang profesional hendaknya mendapatkan bekal yang cukup sehingga menjadi pustakawan yang handal dan profesional.
DAFTAR PUSTAKA

– Buku Pendidikan Kewarganegaraan

Source:makalah-di.blogspot.com

English Version
PREFACE

Praise be to God who has helped his servant finish this paper with great ease. Without help she may not be able to complete the author well.

The paper is organized so that readers can find out how much influence the school library for the quality of education that we provide based on observations from various sources. This paper set up by the compiler with various obstacles. Whether it came from self constituent or who come from outside. But with patience and especially the help of God finally this paper can be resolved.

This paper includes on “The Effect of School Libraries on Quality Education in Schools” and deliberately chosen because the authors draw attention to scrutiny and need support from all parties who care about education.

Authors also thank the teachers / lecturers who have helped making up for Facebook to finish this paper.

Hopefully this paper can provide a broader insight to the reader. Although this paper has advantages and disadvantages. Authors beg for advice and criticism. Thank you.

Author

TABLE OF CONTENTS

PREFACE
TABLE OF CONTENTS

CHAPTER I INTRODUCTION
A. ISSUE BACKGROUND
B. PROBLEM IDENTIFICATION
C. LIMITATION OF PROBLEMS.
D. PROBLEM FORMULATION.

CHAPTER II DISCUSSION
A. SCHOOL LIBRARY PURPOSE.
B. SCHOOL LIBRARY FUNCTIONS.
C. LIBRARY DONATIONS TO THE IMPLEMENTATION OF EDUCATIONAL PROGRAMS IN SCHOOLS.

CHAPTER III FINAL
A. Knot
B. ADVICE

References.

CHAPTER I
INTRODUCTION

A. ISSUE BACKGROUND
Science and technology is always evolving and progressing, in accordance with the times and the development of human thinking. The Indonesian nation as one of the developing countries will not be able to advance as long as not improve the quality of human resources of our nation. Quality of life of the nation can be increased if supported by an established educational system. With an established education system, allows us to think critically, creatively, and productively.

In the 1945 Constitution stated that the country we want to create an intelligent society. To achieve an intelligent nation, have formed learning communities. Learning communities can form if you have the ability and listening skills and a great interest in reading. If reading is a habit and entrenched in society, then obviously the book can not be separated from everyday life and is a basic requirement that must be met.

In the world of education, the book proved efficient and bertepat order as one means of education and means of communication. In this regard the library and library services should be developed as one installation to realize the objectives of the intellectual life of the nation. Libraries are a vital part and the greatest effect on the quality of education.

The title of this paper is deliberately chosen because the authors draw attention to scrutiny and need support from all parties who care about education.

B. IDENTIFICATION PROBLEMS (BACKGROUND)
In accordance with the title of this paper “The Effect of School Libraries on Quality Education in Schools”, in relation to the implementation of education programs at schools, functions and contribution to the implementation of the program library.
In connection with that title, then the problem can be identified as follows:
1. How does the role of libraries on the implementation of education programs in schools
2. How can the school library can truly improve the quality of education in school?

C. LIMITATION OF PROBLEMS.
To clarify the scope of discussion, the issues discussed is limited to the problem:
a. The role of the library towards the implementation of education programs in schools;
b. The ways for the school library can really improve the quality of education in schools.

D. Problem Formulation.
Based on the background and the limitation issue, the problems discussed can be formulated as follows:
1. How does the description of the role of libraries on the implementation of education programs in schools?
2. How the description of the way for the school library can truly improve the quality of education in school?

CHAPTER II
DISCUSSION

Library is an integral part of educational institutions as a collection of library materials, either the book or not book.
In accordance with the title of this paper, the discussion includes the purpose of libraries, function libraries and library donations towards the implementation of educational programs.

A. SCHOOL LIBRARY PURPOSE.
The main objective of organizing the school library is to improve the quality of education together with elements of other schools. While other purpose is support, support, and complete all activities both curricular, co-curricular and extra curricular activities, in addition is also intended to help foster student interest and develop talent and strengthen teaching and learning strategies.
However, in the school library when operational goals associated with the implementation of programs in schools, including:
1. Foster a sense of love, awareness, and reading habits.
2. Guiding and directing techniques to understand the content of reading.
3. Expanding knowledge of the students.
4. Help develop language skills and thinking power of students by providing quality reading material.
5. Guiding students to use and maintain library materials properly.
6. Provide the basics to the independent study.
7. Provide opportunities for students to learn how to use the library with a good, effective and efficient, especially in the use of reference materials.
8. Providing library materials that support curriculum in schools pelaksaanan programs both curricular, kokurikuler, as well as extra curricular.

B. SCHOOL LIBRARY FUNCTIONS.
Based on the school library purposes, it can be formulated some library functions, as follows:
1. Educative function.
The meaning of educative function is perpustkaan provide library materials in accordance with the curriculum that is able to arouse students’ interest in reading, developing power of expression, develop language skills, developing a style that is rational and critical thought and able to guide and nurture the students in terms of how to use and maintain library materials properly.

2. Informative functions.
The meaning of the informative function is a library providing library materials which contain information about the various branches of science quality and uptodate arranged regularly and systematically, so as to facilitate the officers and users in finding needed information.

3. Administrative Functions
What is meant by administrative function is a library should do the recording, completion and processing of library materials and organizing the circulation of a practical, effective, and efficient.
4. Recreational functions.
What is meant by recreational function library books in addition to providing knowledge also needs to provide the books that are recreational (entertainment) and quality, so that readers can use to fill free time, either by students or by teachers.
5. Research Function
What is meant by the function of research libraries is to provide a reading which can be used as source / object simple research in various fields of study.

C. LIBRARY DONATIONS TO THE IMPLEMENTATION OF EDUCATIONAL PROGRAMS IN SCHOOLS.
When observed in jenih, then the school library actually contribute to the implementation of education programs in schools. Donations / role of the library include:
1. Library is a source of knowledge and learning centers.
2. Libraries are a source of new ideas that could encourage the willingness of students to be able to think rationally and critically, and provide instructions to create.
3. Library will provide satisfactory answers for the students, as the demands of a sense of curiosity about something, have actually been built.
4. A collection of library materials (collections) in the library reading memberika opportunity for students who have the time and diverse capabilities.
5. Libraries provide the opportunity for students to learn how to use the library efficiently and effectively.
6. Library will help students improve in reading skills and expand vocabulary.
7. Libraries can cause love to read, so it can direct the taste and appreciation of students in the selection of readings.
8. Library memberikab satisfaction for knowledge outside the classroom.
9. Library is a recreation center that can provide a healthy entertainment.
10. Libraries provide opportunities to students and teachers to conduct research.
11. Library is a stepping stone for students to continue their reading habits at school is higher.
12. Excitement / interest in reading of students who have developed through the library very positive effect on academic achievement.
13. If your reading interests have grown and developed in self-esteem, then the library can also reduce a child snacks, which are usually negatively affect the health of children.
14. Even the library is also for children to stay away from delinquency measures, which could lead to less healthy atmosphere in the friendly relations between them.

CHAPTER III
CLOSING

A. Knot
Based on the description of the discussion “The Role of School Libraries on Quality Education in Schools” can be concluded that:
1. The role of libraries is to support educational achievement at school.
2. Libraries are very important and should exist in every school in all levels of education.
3. Library management must be implemented in accordance with the purposes and functions

B. ADVICE
Based on the role of the library so much contribution in the implementation of education programs in schools, authors provide suggestions as follows:
1. Should the library be managed in accordance with the purposes and functions.
2. The role of the library / librarian professional should get enough stock to become a reliable and professional librarians.
REFERENCES

– Citizenship Education Book

Source: paper-di.blogspot.com